Feature

Dulu Pilah Sampah, Kini Jadi Kades: Kisah Surya Menembus Batas Kemiskinan dan Menang Pilkades

Dulu Pilah Sampah, Kini Jadi Kades: Kisah Surya Menembus Batas Kemiskinan dan Menang Pilkades

Dulu Pilah Sampah, Kini Jadi Kades: Kisah Surya Menembus Batas Kemiskinan dan Menang Pilkades

STRAKONNEWS.COM, BEKASI – “Tukang pilah sampah jadi lurah.”

Kalimat sederhana itu belakangan ramai menjadi ucapan selamat untuk Surya, warga Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Usianya 46 tahun. Bertahun-tahun, tangan Surya akrab dengan kardus bekas, botol plastik, dan berbagai limbah dari kawasan industri. Bersama istrinya, Ratih Ratnasari, ia menyewa sebidang lahan di belakang rumah untuk memilah sampah demi menyambung hidup.

Kini, pekerjaan itu berubah total.

Surya terpilih menjadi Kepala Desa Mekarwangi dalam Pilkades 2026.

Jika sebelumnya ia setiap hari memilah sampah untuk mencari barang yang masih bernilai jual, kelak sebagai kepala desa ia menghadapi pekerjaan yang jauh lebih besar: memilah berbagai persoalan warganya.

Mana yang harus segera dibantu. Mana yang berhak mendapatkan bantuan sosial. Mana jalan yang harus diperbaiki. Drainase mana yang harus dibenahi. Anak muda mana yang membutuhkan pekerjaan.

Dan yang paling penting, bagaimana membuat seluruh warga merasa bahwa kepala desa adalah milik bersama.

Dari Tempat Sampah ke Balai Desa

Kemenangan Surya bukan cerita yang datang tiba-tiba.

Ia maju sebagai calon kepala desa nomor urut 1 dan harus berhadapan dengan Subur Rustadi, kepala desa petahana.

Banyak orang sempat memandang pencalonan Surya sebagai sesuatu yang nyaris mustahil.

Ibarat “semut melawan gajah”.

Di satu sisi ada petahana. Di sisi lain ada Surya, seorang pekerja pemilah sampah dengan kondisi ekonomi terbatas yang harus menghidupi lima anak bersama istrinya, sekaligus membantu kebutuhan mertuanya.

Namun dukungan warga perlahan mengubah cerita.

Saat sosialisasi dan kampanye, warga ikut bergotong royong. Makanan dan minuman disiapkan secara swadaya untuk mendukung Surya.

Dukungan itu akhirnya terlihat dalam angka perolehan suara.

Dalam penghitungan suara, Surya meraih sekitar 4.107 suara dan, unggul dari Subur Rustadi yang memperoleh 4.015 suara. Beberapa pemberitaan mencatat angka perolehan Surya sebesar 4.117 suara.

Selisihnya tidak besar.

Tetapi cukup untuk mengubah jalan hidup Surya.

Ketika hasil penghitungan diumumkan, warga yang mendukungnya larut dalam kegembiraan. Surya bahkan diarak menggunakan mobil pikap sebagai bentuk perayaan atas kemenangan tersebut.

Dari seorang pemilah sampah, ia kini bersiap menuju kursi kepala desa.
Pernah Gadaikan Tanah untuk Pilkades

Di balik kisah kemenangan yang kemudian viral, ternyata perjalanan Surya menuju kursi kepala desa juga tidak mudah.

Dalam perbincangannya di kanal YouTube Gubernur Konten, Surya mengungkapkan bahwa kontestasi Pilkades tetap membutuhkan biaya operasional.

Jumlahnya disebut mencapai sekitar Rp100 juta.

Bagi seseorang yang sehari-hari mengandalkan penghasilan dari memilah sampah, angka tersebut tentu bukan jumlah kecil.

Surya bahkan mengaku harus menggadaikan surat tanah miliknya untuk memenuhi kebutuhan selama proses Pilkades.

Di sinilah kisahnya menjadi semakin manusiawi.

Ia bukan datang dari keluarga berada. Ia bukan orang yang hidup bergelimang kemewahan.

Ia hanya seorang warga desa yang mencoba menawarkan dirinya kepada masyarakat dan berharap mendapat kepercayaan.

Dan kepercayaan itu akhirnya datang.

Setelah Menang, Pekerjaan Justru Dimulai

Kemenangan dalam Pilkades bukan akhir cerita bagi Surya.

Justru di situlah pekerjaan sebenarnya dimulai.

Setelah resmi dilantik untuk masa jabatan delapan tahun, Surya berkomitmen merangkul seluruh masyarakat Desa Mekarwangi, termasuk mereka yang sebelumnya tidak memilihnya.

Tidak ada lagi nomor urut 1 atau nomor urut 2.

Yang ada adalah warga Desa Mekarwangi.

Sejumlah program telah disiapkannya, mulai dari transparansi pemerintahan desa, pendirian Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) bagi pemuda, pembenahan jalan dan drainase untuk mengurangi persoalan banjir, hingga penyediaan kain kafan gratis bagi keluarga warga yang sedang berduka.

Program-program tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus dibuktikan setelah ia benar-benar duduk sebagai kepala desa.

Sebab menjadi kepala desa tentu berbeda dengan menjadi calon kepala desa.

Saat berkampanye, seseorang meminta kepercayaan rakyat.

Setelah menang, ia harus membayar kepercayaan itu dengan kerja.

Dari Memilah Sampah, Kini Memilah Persoalan Warga

Ada ironi sekaligus pesan kuat dari perjalanan Surya.

Dulu, setiap hari ia memilah sampah.

Kardus dipisahkan. Plastik dipisahkan. Barang yang masih bernilai dipisahkan dari yang tidak bisa digunakan.

Kini, setelah menjadi kepala desa, ia harus kembali “memilah”.

Tetapi yang dipilah bukan lagi sampah.

Ia harus memilah persoalan warga, menentukan prioritas pembangunan, memastikan bantuan tepat sasaran, dan mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Tanggung jawabnya jauh lebih besar.

“Dulu memilah sampah untuk menghidupi keluarga. Sekarang harus memilah mana yang menjadi kebutuhan rakyat dan mana yang harus diprioritaskan.”

Kalimat itu mungkin belum pernah benar-benar diucapkan Surya. Tetapi begitulah kira-kira gambaran perubahan hidup yang kini harus dijalaninya.

Kisah Surya juga mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Setelah kisahnya viral, rumah sederhana Surya direncanakan mendapatkan bantuan renovasi.

Namun, bantuan rumah hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan barunya.

Yang jauh lebih penting adalah membuktikan bahwa kepercayaan ribuan warga yang memilihnya tidak salah alamat.

Dari tempat memilah sampah, Surya kini menuju kantor desa.

Dari menghidupi keluarganya, ia kini dituntut memikirkan kehidupan satu desa.

Dan dari seorang warga biasa, ia mendapatkan kesempatan untuk membuktikan satu hal:

bahwa jabatan kepala desa tidak selalu harus dimulai dari kemapanan—tetapi setelah jabatan itu diraih, kemauan untuk bekerja harus dibuktikan.(FB/Kang Dedi Mulyadi Community/Red)

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *